Memahami Manusia sebagai "Makhluk Menjadi" ala Heidegger
Pernahkah Anda merasa bahwa hidup ini bukanlah tentang "menemukan diri", melainkan " menciptakan diri " ? Di dunia yang serba instan, kita sering terjebak pada label statis: "Saya seorang pemalas," atau "Saya memang begini orangnya."
Namun, filsafat punya sudut pandang berbeda. Manusia bukanlah benda mati yang sudah jadi. Kita adalah sebuah proses yang terus mengalir. Mari kita bedah melalui pemikiran salah satu filsuf paling berpengaruh di abad ke-20, Martin Heidegger.
Heidegger menggunakan istilah Dasein (berasal dari kata Jerman: Da berarti di sana, dan Sein berarti ada) untuk menyebut manusia. Berbeda dengan batu atau meja, manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari keberadaannya dan mempertanyakannya.
Bagi Heidegger, manusia bukanlah objek yang diam. Kita adalah "keterbukaan". Kita selalu "berada di luar sana" menuju masa depan. Artinya, hakikat manusia bukanlah apa yang ia miliki sekarang, melainkan kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa ia ambil di masa depan.
Heidegger mengakui bahwa ada aspek "sudah jadi" dalam diri kita, yang ia sebut sebagai Keterlemparan (Thrownness).
Kita "dilempar" ke dunia tanpa bisa memilih orang tua, budaya, atau era sejarah.
Ini adalah sisi "Makhluk Jadi" kita—batasan fisik dan sejarah yang tidak bisa diubah.
Namun, Heidegger menegaskan bahwa meski kita dilempar ke dunia, kita memiliki kekuatan untuk melakukan Proyeksi (Entwurf). Kita bisa memilih bagaimana merespons keterlemparan tersebut. Anda mungkin tidak bisa memilih di mana Anda lahir, tetapi Anda punya kendali penuh untuk memilih akan menjadi apa Anda di sana.
Dalam proses "menjadi", tantangan terbesar manusia adalah tekanan dari lingkungan (Heidegger menyebutnya sebagai Das Man atau "Mereka"). Seringkali, kita berhenti "menjadi diri sendiri" dan malah "menjadi apa yang orang lain inginkan".
Untuk menjadi "makhluk menjadi" yang sejati, kita harus berani mengambil keputusan secara autentik. Kita harus berhenti mengikuti arus buta dan mulai sadar bahwa setiap pilihan yang kita ambil adalah bagian dari upaya membangun diri kita sendiri.
Menuju Kematian sebagai Pengingat (Being-towards-Death)
Satu hal yang membuat proses "menjadi" ini begitu mendesak adalah fakta bahwa waktu kita terbatas. Heidegger menyebut manusia sebagai Sein-zum-Tode (Ada-menuju-kematian).
Kesadaran bahwa hidup akan berakhir bukanlah untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan kita bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk "menjadi". Karena ada batas waktu, maka setiap pilihan kita menjadi sangat berharga.
Secara biologis, kita mungkin adalah "makhluk jadi". Namun secara eksistensial, kita adalah proyek terbuka. Kita tidak pernah benar-benar "selesai" selama jantung masih berdetak.
Kesimpulan kuatnya: Memahami diri sebagai "makhluk menjadi" berarti membuang semua alasan "saya memang begini". Dengan perspektif Heidegger, kita diingatkan bahwa kita bukan sekadar objek yang terbawa arus, melainkan subjek yang punya kuasa untuk memproyeksikan diri ke masa depan. Jangan biarkan "keterlemparan" menghentikan Anda, karena martabat tertinggi manusia terletak pada keberaniannya untuk terus membentuk diri secara autentik hingga akhir hayat.

Posting Komentar untuk "Memahami Manusia sebagai "Makhluk Menjadi" ala Heidegger"
Posting Komentar